Formulir Kontak



Rabu, 25 Januari 2017

Sebut Namanya dalam Do'a



Jumat pagi masih terlelap teman-teman ku dengan buku yg dijadikan bantal dan bantal yang tersimpan rapih ditempatnya, maklum anak kos bukupun jadi teman tidurnya, aku bangun dan kuletakan buku yang menindihi wajahku semalaman suntuk. Memang hari ini terakhir masa UAS di kampus tapi suasana kampus masih ramai dan belum banyak dari mereka yang pulang ke kampung halaman. Pagi ini kota Depok diselimuti awan mendung, sedikit sinar matahari dan masih bergegas aku menuju kampus dengan jalan agak sedikit berlari. Sampai tiba di kelas ku kerjakan soal UAS dan berusaha mengingat apa-apa yang sudah kupelajari semalaman, mustahil rasaya bisa mengerjakan soal serumit ini karena soal ini dibuat sedemikian rupa diperumit oleh dosen ku sendiri huhuhuhu ..
1 jam setengan beralalu, kutengok ke kiri dan kulihat Citra, ia dengan gerak geriknya berkata "kumpulin yuk doain aja biar cepet keluar nilainya" kubalas senyum dan kembali aku melihat soal dengan tatapan tambah frustasi aku mengerjakannya ..
Waktu habis dan ku kumpulkan soal beserta lembar jawabanku, aku keluar kelas dan berbincang sedikit seputar soal UAS tadi yaa tak banyak yang ku kerjakan tapi cukuplah untuk aku lulus dimatakuliah yang satu ini. Perkenalkan Namaku Sekti Putri, semester 7 jurusan Perbankan Syariah kampus kecil yang berada di Depok.
Mendung masih mendung tapi tak kunjung hujan, dingin masih dingin walau sedikit matahari duhh musimnya berganti secepat ini. Masih sibuk aku dengan tugas kampus ku terdiam aku melihat titik hujan, aku berhenti dan sedikit bergeser ketempat yang agak sepi inginnya sih biar agak melow gituuu namun tiba-tiba Rudi datang dan bergegas aku berdiri. Rudi dia kakak tingkat ku sudah genap 6 tahun berpacaran seperti itulah keadaannya, sedikit berbagi cerita ia tentang Anis kekasihnya yang ada jauh di Kalimantan sana Rudi akan segera pulang dekat-dekat ini dan cairlah rindunya pada kekasih hati, melow rasanya. Semakin gelsih saja perasaanku ini, bukan karena Rudi tapi tentang rindu Rudin yang seperti apa untuk Anis aku tak faham maksudnya maklumlah aku belum pernah merasakan rasanya rindu ataupun dirindukan kecuali oleh orang tuaku dan sahabat yang pastinya mengatakan "kangen kamu" seperti apalah ituu bentuknya ..
Membahas rindu dikeadaan yang seperti ini aku jadi terbawa cerita Rudi rasanya mendengarkan dan sebatas ingin tau seperti apasih rindu Rudi yang ia maksudkan heheh
hujan kemabali tertahan oleh awan, kusiapkan diriku untuk bergegas setelah mendengarkan cerita rudi tadi kuselesaikan urusanku dikampus dan bersiap untuk kembali ke kosan.
Sesampainya dikosan ku rebahkan badankau dan kupasrahkan semua yg terjadi di hari ini kepada Allah pemilik takdir, entah itu nilai UAS ku ataupu apapun masalahku dihari ini.
Adzan Ashar berkumandang ku segerakan sholatku, khusyu ku berdoa terselip rindu ku pada bunda.
Bunda, "sebut namaku dalam doa mu"
Kuteruskan sholatku dengan bertadarus, tak lama dari itu hp berdering kulihat ibu menelponku sontak kaget aku langsung menerima telpon itu. Bercerita ibu tentang adik dan ayah dirumah yaa syukurku semua dalam ke adaan sehat, diujung pembicaraan kuu tanyakan pada ibu
"bu,dalam doa mu tersebutkah namaku? Hari-hari ku di semester akhir ini sangat sulit bu" bergumam aku pada ibu
"sebut namaku dalam do’amu bu"
ibu terdiam dan membalas gumamanku. Tugas ibu mendoakan kakak dan seluruh keluarga kita
“saat semua terasa sulit hadirkan dan sebut Allah dalam setiap doa mu ka" ujar ibu.
Tertegun aku dalam diam dan kuakhiri perbincangan disore itu. Teringat aku pada kata2 ibu tadi, aku harus menghadirkan Allah disetiap do’a ku begitulah benarnya. Tak ku lepaskan mukena dari badanku dan kulanjutkan bertadarus hingga aku tertidur sampai menjelang maghrib.
Kuhadirkan Allah dalam setiap doa dan kegiatanku sehari-hari, ku harap dapat merasakan ketenangan dalam menyelesaikan semester akhirku.
Hp ku berdering dan ku angkat tlpn dari Rudi, sejak tadi berusah menghubungi ku tapi mungkin aku masih tertidur karena terus berdering akhirnya kuangkat telponnya, terhitung jarang sekali ia menelponku kutanyakan kabar dan keadaan Rudi saat itu. Rudi bercerita tentang hari ini. Kudengarkan dan kuberi beberapa nasihat yaa mungkin itulah yang ingin dia dapatkan namun sontak terkejut aku mendengar Rudi yang tidak bisa lulus sidang Skripsi tahun ini dan kemungkinan menyelesaikan sidang akhir bersamaan dengan ku ditahun depan karena ada beberapa syarat yang belum dipenuhi. Kusarankan untuk tetap bersabar, berusaha dan terus ber-Do’a, Aku bertanya pada Rudi
“Rudi.. pernah nggak kamu menyertakan Allah dalam setiap Do’a mu?”
dan Rudi menjawab “jujur ya putt, dalam berdo’a aku hanya terfokus dalam setiap harapanku saja dengan tujuan memintanya kepada Allah”
“maksd ku, kamu menyertakan Allah tidak? Yang seakan-akan Allah hadir disetiap Do’a mu?” jawabku, lalu Rudi menjawab
“belum put, aku hanya terfokus pada keinginan dan harapanku saja yang seolah-olah mau tidak mau Allah harus mengikuti inginku”.
“Hadirkan Allah dalam setiap do’a mu Rudi, Allah pemilik segalanya dan pasrahlah pada takdir yang telah Allah berikan dengan tetap berusaha ingat bahwa Allah bersama prasangka hambanya”
tuturku untuk menenangkan fikiran Rudi yang kala itu sedang kalut, kusuruh rudi secepatnya mengambil air wudhu dan memohon ampunan kepada Allah SWT, berakhirlah perbincangan disore itu ku tutup telpon Rudi dengan berat hati meninggalkannya sendiri dalam keadaan sulit. Seperti itulah keadaannya, bagaimanapun dan seperti apapun takdir yang kita dapatiselalu sertakan Allah dalam setiap Do’a mu, aktifitas mu dan perkataan mu karena Allah berada dekat dengan mu.

Sekti Putri Bonowati-STEI SEBI

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts