Formulir Kontak



Rabu, 25 Januari 2017

Tuhan Aku Pernah Pacaran




Komitmen yang ditanam sejak kecil untuk tidak pacaran, akhirnya kandas saat aku memasuki dunia remaja, saat aku merasa dunia hanya milikku, saat kebebasan-kebebasan mulai menyapa, saat pendapat teman lebih aku terima dibandingkan orangtuaku sendiri, saat itu pula aku pernah merasakan 'pacaran'.
"Aku terima kakak menjadi pacarku" jawabku malu-malu.
"Terimakasih ya De..."suara dia terdengar sumringah bahagia.
"Iya...."suaraku bahagia
Pada saat itu, rasa bahagia selalu menghiasi, namun teryata aku tak mengetahui pada saat yang bersamaan, ada sepotong hati yang menangisi.
"Jangan lupa makan ya De" suara dia di telvon
"Iya Ka..." jawabku masih canggung.
Masa itu amat bahagia, namum kebahagiaan itu tak lama, karena entah mengapa aku merasakan sepotong hati yang tersakiti itu selalu meronta dan menghujatku tak henti-henti.
"Ada apa ini..." tanyaku pada diriki sendiri.
Aku pernah pacaran sekalipun aku sendiri belum pernah bertemu dengan pacarku, aku pernah mencicipi pacaran sekalipun hanya sekilas, yaah... sekilas bahkan bisa dihitung dalam hitungan hari. Tapi tetap saja sekalipun hanya beberapa hari aku dicap sebagai orang yang pernah pacaran! Aku tak mau sebenarnya, namun ini salahku kenapa dulu aku pacaran!.
Aku pernah mendapat perhatian dari pacarku, aku pernah berkeluh kesah dengan pacarku, namun itu hanya sesaat, karena Dia Sang Maha membolak balikkan hati segera mengetuk hatiku.
Kalian tahu?, aku merasa amat berdosa manakala si dia perhatian padaku, aku merasa berdosa saat si dia mulai memperhatikan gerak gerikku sekalipun dari jarak jauh. Sekalipun pasa saat itu hati bahagia, namun aku tetap saja gelisah... sungguh amat gelisah, aku tidak tahu kenapa pada saat itu aku merasakan kegelisahan yang amat sangat, hingga akhirnya, dengan meneteskan air mata dengan berat hati aku putuskan si dia yang pernah bersemayam dalam hati.
"Ka sedang apa?" Tanyaku tegang
"Kaka sedang sibuk, nanti kaka hubungi kamu lagi ya de" jawabnya.
"Sepertinya kita sudahi saja kak hubungan ini...." suaraku tertahan.
"Kenapa tiba-tiba?, ada apa dengan mu De?" Tanya dia bertubi-tubi.
"Ka..., kita putus." Jawabku sambil matikan handphone.
Sakit? Iya! Saat itu aku menangis tanda patah hati, setelah berpisah pasti tidak akan ada lagi perhatian yang si dia berikan kepadaku.
Jujur, pada saat itu hampir beberapa hari aku menangis akibat keputusanku, namun semakin berjalannya waktu, akupun mulai membiasakan hidup tanpa perhatian si dia.
Terlihat lebay? Memang demikiam yang aku rasa. Sekalipun aku pernah mencicipi pacaran hanya sekilas, yaa hanya sekilas, namun amat membekas.
"Allah...."rintihku disepertiga malam-Nya.
Aku tidak akan menghujat apalagi protes kepada Sang Maha Hebat, aku tidak akan protes kenapa aku ditakdirkan menjadi manusia yang pernah merasakan pacaran sekalipun hanya beberapa hari. Aku yakin, dia merencanakan sesuatu untukku. Dan benar saja, semakin berjalannya waktu, akupun paham kenapa Dia menjebloskanku kedalam kubangan cinta yang hanya sesaat itu.
Yah... Dia ingin aku merasakan bagaimana gelisahnya orang yang mempunyai pacar. Bagaimana tidak khusyunya beribadah orang yang mempunyai pacar, dan bagaimana was-wasnya orang yang mempunyai pacar. Sehingga pada saat itu, akupun berkesimpulan, ternyata... mempunyai pacar itu tidak enak.
Tidak enak? Bukankah setiap hari diperhatikan? Iya diperhatikan, tapi disaat perhatian si dia tertuju padaku, disaat bersamaan aku merasakan bagaimana Dia Sang Maha Gagah memperhatikanku juga dengan wajah yang begitu sinis.
Aku sudah mencicipi nikmatnya pacaran, namun bagiku nikmatnya hanya setitik dan tentu saja tak nikmatnya banyak hingga mencapai langit.Tentu setelah kejadian itu, tak sedikitpun pikiran untuk berpacaran lagi. Cukup sekali dalam seumur hidup dan tidak akan pernah ku ulangi lagi.
Saudariku, mungkin aku termasuk perempuan yang beruntung, disaat statusku berpacaran, rasa was-was dan gelisah akan dosa selalu terngiang-ngiang ditelingaku, sehingga dengan terpaksa sekalipun sakit aku putuskan rasa yang belum saatnya itu.
Sekarang... Allah izinkan aku menjadi seorang wanita yang berusaha dekat dengan-Nya. Sudah kuputuskan aku meninggalkan dia karena aku merasa Allah cemburu padaku.
Awalnya aku malu, karena teringat akan masa sebelum hijrahku dulu, namun..., lihat aku sekarang, Allah meberikan cahaya-Nya kepadaku, sekalipun dulu aku pernah menduakan cinta-Nya.
"Ya Allah, aku telah meninggalkannya, izinkan aku mencintai-Mu dan jangan pernah tinggalkanku lagi" rintihku disepertiga malam-Nya.
Saudariku, jangan malu sekalipun dulu kita pernah berpacaran, jadikan masa kelam sebagai pelajaran yang mendalam.
Kadang, rasa sesal menyeruak di dada mengingat masa-masa dulu, namun kembali aku teringat akan besarnya kasih sayang-Nya kepadaku.
Saudariku.... Lupakan masa lalu yang kelam,
Saatnya maju kedepan,
Sekalipun kita pernah berada di jurang kemaksiatan,
Tak usah malu untuk melakukan kebaikan,
Selagi nyawa di kandung badan,
Selagi Dia memberi kesempatan,
Tak usah ragu untuk terus melangkah kedepan,
Azamkan untuk tinggalkan kemunkaran,
Agar cahaya-Nya kita dapatkan.
Saudariku...
Mari pegang tanganku dengan genggaman yang penuh keyakinan,
Jangan pernah berpikir merasa sendirian,
Karena ada aku disini siap menjadi teman.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts