Formulir Kontak



Rabu, 25 Januari 2017

Ya Allah Tujukan Kami Jalan Yang Lurus

“ Teman-teman, Aldi langsung ya..Doakan semoga Aldi selamat sampai tujuan. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”. Aldi pun meninggalkan kelas.
    “ Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh”.
Hari ini adalah hari terakhir Aldi di Bandung sebelum dia pergi meninggalkan Indonesia menuju ke Madinah. Dan pertanyannya, Aldi ini siapa? Jadi, Aldi adalah ketua angkatan di jurusan kami ( jurusan sastra inggris). Ia terpilih sejak kami menjadi mahasiswa baru dan tetap terpilih hingga semester tiga ini. Kemampuan memimpinnya yang luar biasa menjadikan kami keukeh memilihnya di tiap pergantian ketua. Selain itu dia juga cerdas baik dalam akademik maupun non akademik.  Tapi seminggu yang lalu, dia mendapat kabar bahwa dia mendapat beasiswa di sebuah perguruan tinggi terbesar di Madinah. Setelah diskusi dengan kedua orangtuanya, ia pun memilih untuk menerima beasiswa itu. Tentu saja kami merasa kehilangan. Termasuk aku, pengagumnya rahasianya.
***
     Setelah kepergian Aldi, Aku ( wakil ketua angkatan) diminta untuk naik menjadi ketua angkatan. Tapi aku menolak karena pemimpin itu baiknya laki-laki. Akhirnya Ahmad pun menggantikan. Dan semenjak itu, aku dan Ahmad lebih sering berkomukasi. Tentu saja membahas tentang angkatan.
    Kamis ini libur. Tidak ada mata kuliah karena dosen yang mengajar sedang ada tugas keluar kota. Aku memanfaatkan libur ini dengan belajar. Karena minggu depan akan diadakan lomba debat bahasa inggris individu se-kota yang diadakan oleh salah satu universitas swasta di kota kami. Aku dipilih untuk ikut mewakili universitas. Jika lolos babak penyisihan, minggu depannya lagi akan dilaksanakan final yang memperebutkan hadiah sebesar lima juta rupiah.
“Ping”. Notifikasi handphone ku masuk. Aku yang sedang serius membaca buku tidak menghiraukannya.
    “ Ping”
    “ Ping”
    “ Duh, ganggu saja”. Aku mengambil handphoneku. Ternyata pesan dari Ahmad.
    ‘ Brin, tolong dong’
    ‘ -_- ganggu aja. Tolong apa?’
    ‘ Gue mau curhat nih. Loe dengerin ya, kasih gue saran. Please…’
    ‘ Kenapa curhat sama gue? Sama temen cowok loe yang lain kan bisa’
    ‘ Please Brin..sekali aja’
    ‘ Yaudah. Apaan?!’
    ‘ Jangan galak-galak dong mba, wkwk’
    ‘ Cepat dah, nanti kalau kelamaan nggak gue bales loh’
    ‘ Iya iya -_-. Jadi gini Brin, tadi kan gue nembak cewek, tapi dia langsung tolak mentah-mentah! . Huhu. Hati gue rasanya hancur berkeping-keping, Brin ’
    ‘ Wah, selamat ya haha. Alay loe ’
    ‘ Jahat loe Brin. Gue asli lagi sedih nih’
    ‘ Haha. Lagian loe ngapain sih mau pacaran?’
‘ Ya biasalah Brin. Anak jaman sekarang kalau nggak pacaran itu nggak gaul katanya’
‘ Ah. Loe terlalu terbawa arus. Loe nggak berpikiran ke depan sih’
‘ Brin, kata-kata loe asli jleb banget deh. Bikin gue tambah sedih’
    ‘ Siapa suruh loe curhatnya sama gue. Udah tau gue orangnya suka bikin jleb orang, wkwk. Jadi gini ya Mad. Alasan pertama kenapa gue menentang pacaran? Alasan pertama tentu saja karena agama melarang’
    ‘ Memang di Alquran ada larangan berpacaran ya Brin?’
    ‘ Di dalam Alquran surah Al-Israa’ ayat 32 disebutkan bahwa kita dilarang mendekati zina. Dan pacaran adalah pintu mendekati zina.’
‘ Ehm gitu ya Brin. Gue baru tau nih’
‘ Makanya kalau mata kuliah agama tuh masuk. Absen terus loe. Lanjut ya, alasan kedua gue, pacaran itu cuma buang-buang uang, waktu dan tenaga kita hanya demi ‘dia’. Memang ‘dia’ itu siapa sih? Apa ‘dia’ yang menentukan masa depan kita sampai kita rela kehilangan itu semua? Apa loe mau masa depan loe hancur gara-gara loe kehilangan tiga hal itu. Mendingan loe gunakan itu buat hal-hal yang lebih memberi manfaat buat masa depan loe. Lagian belum tentu ‘dia’ bakalan terus sama kita nantinya, paling putus tengah jalan. Ya kan?’
‘ … bentar ya Brin, gue masih menelaah kata-kata loe’
“ Allahuakbar allahuakbar”. Adzan Dzuhur berkumandang. Aku meninggalkan buku dan handphone kemudian bergegas mengambil air wudhu.
Selesai sholat, handphone ku berdering. Ternyata panggilan dari nomor tak dikenal. Aku tidak suka mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal (belum tersimpan di kontak) sebelum orang itu mengirim pesan dahulu. Karena akhir-akhir ini di berita seringkali kejahatan yang diawali panggilan dari nomor tidak dikenal.
“ Ping”. Notifikasi masuk, ternyata pesan dari Ahmad.
‘ Iya Brin, loe bener. Selama empat kali pacaran, gue ternyata hanya membuang-buang tiga hal penting itu dengan sia-sia. Gue habisin duit gue buat traktir ‘dia’, belikan kado ‘dia’, belum lagi kalau ‘dia’ ngambek, gue harus beli ini dan itu supaya dia nggak ngambek lagi. Nilai gue juga pada turun semua karena jarang belajar. Waktu gue habis buat ‘dia’ jalan-jalan. Gue nggak dapat apa-apa selain rasa sakit hati setelah putus . Dan yang paling mengerikan adalah berapa banyak dosa yang gue dapat karena melanggar aturanNya’
‘ Apa?! Empat kali??’. Tanyaku kaget.
‘ Biasa aja atuh itu mah. Temen gue malah ada yang sampai lima kali lebih’
‘ Ckck. Yaudah lah, yang lalu biar berlalu. Kalau emang loe sadar dan mau berubah, loe mulai dari sekarang. Mau berubah atau nggak, itu kembali ke diri loe sendiri ya’
‘ Gue mau berubah Brin. Tapi..’
‘ Orang yang mau berubah tidak perlu kata tapi’
‘ Tapi Brin aku sudah banyak dosa banget’
‘ Allah Maha Pengampun Mad’
‘ Apa yang harus gue lakukan?’
‘ Yang pertama tadi niat dari loe sendiri, minta ampun sama Allah. Yang kedua lupakan barisan para mantan, wkwk. Yang ketiga, bergabung bersama teman-teman soleh untuk saling mengingatkan. Lakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Misalnya datang saat ada materi-materi keislaman. Atau melakukan hal-hal yang bisa memaksimalkan potensi diri. Itudah, mungkin loe bisa tambahin sendiri’
‘ Oke Brin, siap! Makasih ya :)’
‘ Iyo, masama’
***
Seminggu kemudian di kampus.
“ Wah sibuk ya. Kapan finalnya?”. Ahmad menghampiriku yang sedang belajar. Oh iya, Alhamdulillah aku masuk final lomba debat bahasa inggris yang pernah kuceritakan sebelumnya. Dan minggu depan aku berhadapan dengan lawan yang luar biasa.
“ Oy, serius amat”. Katanya lagi karena aku tidak merespon pertanyaannya.
“ Apasih Mad? Loe ngomong apa?”. Kataku sambil menutup buku.
“ Uh..kasihannya gue dari tadi ngomong nggak dianggap. Loe kapan finalnya Shabrina??”. Tanyanya kesal.
“ Minggu depan. Doain ya”
“ Eh eh eh, beneran ya gosip anak kampus sebelah yang dikeluarkan gara-gara hamil?”. Tanya Naning begitu masuk kelas. Kami yang berada dalam kelas sangat terkejut.
“ Hamil diluar nikah?”. Tanya Yana.
“ Iya, Yan”. Jawab Naning.
“ Dapat berita dari mana loe?”. Tanya Mitha.
“ Udah nyebar kali beritanya. Nih coba lihat”. Jawab Naning sambil menyodorkan handphonenya.
***
Dua hari sebelum final , aku di telepon oleh pihak penyelenggara lomba. Katanya, final lomba debat akan ditiadakan akibat salah satu peserta mengundurkan diri. Artinya, hanya tinggal aku seorang dan aku lah yang berhak mendapatkan hadiah sebesar lima juta rupiah itu. Dan saat aku bertanya kenapa peserta itu mengundurkan diri , sang penelepon berkata bahwa finalis itu dikeluarkan dari kampus karena hamil diluar nikah. Ternyata insiden yang ramai dibicarakan di kelas kemarin benar adanya dan ternyata dia adalah lawan debatku nanti. Perasaan bahagia dan prihatin bercampur aduk. Bahagia karena mendapat rezeki dan prihatin karena insiden tersebut. Aku terhenyak. Ini dia akibat fatal dari berpacaran. Ketika setan telah berbisik dan iman kita tidak kuat untuk melawannya, maka kita akan terhasut oleh bisikannya.Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Amin.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts